Wednesday, 3 February 2021

ABU NAWAS DAN GAJAH AJAIB

 "Gajah Ajaib"



Karena tidak ada yang harus dikerjakan di rumah, Abu Nawas keluar untuk mencari angin.
Jalan-jalan.
Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.

Berikut Kisah Abu Nawas yang menipu Gajah ajaib:
"Ada kerumunan apa di sana?" tanya Abu Nawas.
"Pertunjukan keliling yang melinatkan gajah ajaib." jawab kawan Abu Nawas tersebut.
"Apa maksudmu dengan gajah ajaib?" tanya Abu Nawas lagi.
"Gajah yang bisa mengerti bahasa manusia dan yang lebih menkjubkan lagi adalah gajah itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja." jawab kawan Abu Nawas.


Abu Nawas makin tertarik.
Ia tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu.

Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton.
Karena begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukan itu, sang pemilik gajah dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja yang sanggup membuat gajah itu mengangguk-angguk.


Tidak heran bila banyak diantara para penonton yang mencoba untuk maju satu persatu.
Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat gajah ituk mengangguk-angguk, tetapi usaha mereka sia-sia.
Gajah itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.


Melihat kegigihan gajah itu, Abu Nawas semakin penasaran hingga ia maju untuk mencoba.
Setelah berhadapan dengan binatang berbelalai itu, Abu Nawas bertanya,
"Tahukah engkau siapa aku ini?"
Gajah menggeleng.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi .
Namun Gajah itu tetap saja menggeleng-gelengkan kepala.


"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing.
Gajah itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu." lanjut Abu Nawas mengancam.
Akhirnya gajah itu terpaksa mengangguk-angguk.


Atas keberhasilan Abu Nawas membuat gajah itu mengangguk-angguk maka ia mendapat hadiah berupa uang yang banyak.
Bukan main marahnya pemilik gajah itu hingga memukuli binatang yang malang itu.
Pemilik gajah itu malu bukan kepalang.


Pada hari berikutnya, ia ingin menebus kekalahannya.
Kali ini ia melatih gajahnya mengangguk-angguk.
Bahkan ia mengancam akan menghukum berat gajahnya apabila sampai bisa dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh ABu Nawas.
Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan.


Saat-saat yang dinantikan telah tiba.
Kini para penonton ingin mencoba, harus sanggup membuat gajah itu menggeleng-gelengkan kepala.
Maka seperti hari sebelumnya, banyak para penonton tidak sanggup memaksa gajah itu menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya, Abu Nawas maju lagi.
Ia ingin mengulang pertanyaan yang sama.


"Tahukah engkau siapa aku ini?" tanya Abu Nawas.
Gajah itu mengangguik.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?"
Gajah itu tetap mengangguk.


"Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas.
Gajah itu tetap mengangguk.
Gajah itu mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.


Akhirnya Abu Nawa mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam.
"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" tanya Abu Nawas.
Gajah itu tetap mengangguk.
"Baiklah, bolehkah kogosok selangkangmu dengan balsam?"
Gajah itu mengangguk lagi.


Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu.
Tentu saja gajah itu merasa agak kepanasan dan mulai agak panik.
Kemudian ABu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar.
Bungkusan itu juga berisi balsam.


"Maukah engkau bila balsam ini aku habiskan untuk menggosok selangkangmu?" ancam Abu Nawas.
Gajah itu mulai ketakuta.
Dan rupanya ia lupa ancaman tuannya sehingga terpaksa gajah itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.


Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang licin mampu memenangkan sayembara itu.
Abu Nawas telah meruntuhkan kegigihan gajah yang dianggap cerdik itu.
Pemilik gajah itu marah bukan main dan tidak tahu lagi harus bagaimana mengalahkan Abu Nawas.

ABU NAWAS MELARANG SUJUD DALAM SHOLAT

 


" Melarang Sujud dan Rukuk Dalam Sholat"


Assalamualaikum wr. wb.....Haiii sobaatt........Apa kabar? anda dalam keadaan baik-baik saja bukan? jangan lupa jaga kesehatan ya...usahakan minum air putih ketika bangun tidur dan jangan lupa olahraga ringan 10-15 menit biar badan semakin fress dan bugar. 

Nahh kali admin berbagi lagi cerita Abunawas yg menghadirkan kisah yang tak kalah seru dan sudah ditunggu-tunggu tentunya.
Bagaimana tidak, Abu Nawas melarang seseorang melakukan rukuk dan sujud dalam shalat.
Tentu saja sang khalifah menjadi marah dibuatnya.

Bagaimana kok bisanya si Abu Nawas melarang sujud dan rukuk.
Belum lagi Abu nawas diklaim telah banyak membuat fitnah mengenai anak dan istri.
Bagaimana kisahnya ya !!..


Berikut kisahnya
Abunawas yang merupakan sahabat setia khalifah Harun Ar-Rasyid, seakan ingin menghukum mati Abu Nawas saja begitu mendengar kabar kalau si Abunawas telah banyak menyebarkan fitnah, larangan rukuk serta sujud dalam solat. Sebuah fatwa yang menggemparkan saat itu di kerajaan yang dipimpin Raja Harun Ar-Rasyid.

"Hmmm...Abu Nawas sudah keterlaluan, bukankah dalam islam fatwa seperti itu menyalahi ajaran islam. Hukumannya adalah penggal kepala," guman Raja Harun Ar-Rasyid.

Sebelum Abu Nawas dipanggil, untung saja salah seorang kawan setia Abunawas memberikan saran kepada raja untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum bertindak.

Larangan Sujud dan Rukuk
Akhirnya Abu Nawas dipanggil dan dimintai keterangan terlebih dahulu sebelum dipancung.
"Wahai Abu Nawas, apakah benar engkau berpendapat tidak perlu rukuk dan sujud dalam shalat," tanya Raja.
"Benar, Baginda Raja," jawab Abu Nawas.

Raja Harun kembali bertanya,
"Benarkah engkau berkata kepada masyarakat bahwa Raja Harun suka berftinah?" tanya Raja.
"Benar Paduka," jawab Raja.
Sontak saja Raja Harun berteriak dengan keras dan menggelegar.
"Engkau memang pantas dihukum mati karena melanggar syariat islam dan menyebarkan fitnah tentang junjunganmu," teriaknya.

"Tunggu dulu Baginda, memang aku tidak menolak atas dua pendapat tadi, namun sepertinya kabar yang sampai kepada Paduka tidak lengkap dan seolah-olah aku berkata salah, aku merasa seakan difitnah," jelas Abu Nawas membela diri.
"Wahai Abu Nawas, apa maksudmu? Janganlah membela diri, engkau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya," kata baginda.

Penjelasan Rukuk dan Sujud
Abu nawas segera beranjak dari tempat duduknya.
"Wahai Paduka Raja, aku memang melarang rukuk dan sujud, tapi dalam shalat apa? Waktu itu aku menjelaskan dalam shalat jenazah, yang memang tidak perlu ada rukuk dan sujud," jelas Abu Nawas.

Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid mencoba mencerna apa yang dikatakan oelh Abu Nawas. Meski sebelumnya emosinya mulai muncul, namun Raja membenarkan apa yang menjadi pendapat Abu Nawas tersebut.

"Lalu bagaimana tentang fitnah yang engkau iyakan?" tanya Raja.
Oh saat itu aku sedang membacakan arti Surat Al-Anfal ayat 28 yang berbunyi sebagai berikut,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُأَجْرٌ عَظِيمٌ 

Artinya:
"dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."


"Nah, sebagai seorang ayah dan anak-anakmu, berarti kamu suka fitnah (ujian) itu," lanjut Abu Nawas.

Begitu mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun Ar-Rasyid tertunduk malu, menyesali dan menyadari.

Rupanya kedekatan Abu Nawas kepada Raja menyulut iri diantara para pembantu lainnya.
Para pembantu raja yang iri ingin memutar balikkan berita, namun berita tersebut akhirnya bisa diredam.


Naahh begitulah ceritanya,,,seru kan!! 
jangan lupa share ke teman-teman yaa,,,biar lebih seru lagi...

"dHe_I Like Your Style"

ABU NAWAS MENGUJI KESETIAAN RAJA

 




"Selamatkan Raja dengan Sorban Usang"

Kisah Abu Nawas, tak ada habisnya untuk diceritkan hingga kapan pun.

Seperti pada kali ini, Kisah Abu Nawas akan mengisahkan sepak terjang, kecerdikan Abu Nawas dalam menyelamatkan rajanya dari rongrongan para pengkhianat.

Selidik punya selidik, ternyata yang telah melakukan pengkhianatan adalah para menteri raja sendiri. Berkata bantuan Abu Nawas yang pandai ini, akhrinya bisa ditemukan juga nama menteri yang telah berkhianat.

Berikut Kisahnya
Pada suatu hari di kerajaan yang dipimpin oleh Raja Harun Ar-Rasyid telah terjadi huru hara. Rakyatnya tidak lagi mendapat ketenangan seperti biasanya karena telah terjadi penculikan dan pembunuhan yang misterius.

Raja dan para prajuritnya akhirnya mengetahui bahwa huru-hara tersebut bukan datang dari musuh, namun dari dalam istana sendiri yang diotaki oleh para menterinya.
Namun, raja sangat kesulitan untuk mencari siapa yang berseongkol terhadap tindakan penculikan dan pembunuhan tersebut karena dia melihat bahwa para menterinya semuanya taat kepadanya.

Dari itu, dipanggillah Abu Nawas yang dikenal memiliki otak yang cerdas.
"Ahir-akhir ini aku gelisah, seolah ada seseorang yang hendak mengkudeta kerajaanku. Apa ada yang salah dengan kepemimpinanku?" tanya raja kepada Abu Nawas.
"Ampun beribu ampun baginda, apa yang bisa hamba lakukan untuk membantu?" tanya Abu Nawas.
"Begini wahai Abu Nawas, berilah cara kepadaku untuk menguji kesetiaan para menteriku," kata raja dengan iming-iming hadiah.
"Baiklah paduka, berilah hamba waktu sehari saja agar bisa memikirkan caranya," ujar Abunawas sambil bernjak meninggalkan rajanya.

Tes Kesetiaan menteri-menteri

Setibanya di rumah, Abunawas berpikir keras untuk menemukan cara yang terbaik dan jitu. Karena kelelahan, Abu Nawas akhirnya tertidur dengan lelapnya.
Pada keesokan harinya ketika ia hendak shalat subuh,ia menemukan sorban yang berbau tidak sedap. Sorban itu memang telah lama tidak dicuci oleh istrinya. Dari situlah Abunawas menemukan cara jitu untuk menguji kesetiaan para menteri kerajaan.

Setelah shalat subuh, Abu Nawas segera bergegas menuju istana kerjaaan untuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid.
Abu Nawas meminta raja untuk bersandiwara seolah telah memiliki sorban sakti.
Raja Harun seteju dan melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Abu Nawas.

Setelah itu, maka dikumpulkanlah kelima menterinya untuk menghadap.
Di hadapan para menteri itu, raja mengatakan bahwa ia telah mendapat hadiah berupa sorbansakti hasil pemberian dari kerajaan lain. Dan salah satu kesaktian sorban itu adalah bisa menentukan masa depan kerajaan di masa yang akan datang.

"Wahai para menteriku, bantulah aku untuk menentukan masa depan negeri ini," titah raja.
"Bagaimana caranya wahai Baginda?" tanya salah seorang menteri.
"Masing-masing dari kalian, coba ciumlah sorban hadiah ini secara bergantian. Apabila berbau wangi, maka kerajaan ini akan abadi. Namun, bila baunya busuk, maka kerajaan ini tidak akan lama lagi akan segera runtuh," jelas raja.

Kehebatan Sorban Usang

Sesuai dengan perintah raja, para menteri satu persatu memasuki ruangan untuk mencium sorban sakti tersebut. Setelah semuanya telah mendapatkan giliran, maka dikumpulkanlah lagi menteri-menterinya.

"Bagaimana baunya," tanya raja.
"Sorban ini baunya sangat harum, niscaya kerajaan ini akan abadi," jawab menteri pertama.
Menteri kedua dan ketiga menjawab sama dengan menteri pertama. Intinya adalah mereka berusaha untuk membuat rajanya senang.

Giliran menteri keempat dan kelima angkat bicara.
Di luar dugaan, menteri keempat dan kelima ini mengatakan bahwa sorban sakti tersebut baunya busuk dan menyengat hidung.
Mendengar penyataan menteri keempat dan kelima itu, raja akhirnya membuka rahasia bahwa sorban yang dikiranya sakti tersebut adalah milik Abunawas yang sudah usang dan tidak dicuci lama sekali.

Bergetarlah badan dari menteri pertama,kedua dan ketiga.
"Kini aku tahu siapa diantara kalian yang telah berkhianat kepadaku. Kalian telah terbukti berbohong dan kalian pantas untuk masuk penjara," ujar raja Harun.
Menteri pertama,kedua dan ketiga segera ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Kepada menteri keempat dan kelima, Raja Harun memberikan hadiah kepada mereka karena kesetiaan yang telah diberikan. Tak lupa juga, Abu Nawas mendapat bagian hadiah yang telah dijanjikan oleh Raja Harun kemarin hari.

Naahh begitulah ceritanya,,,,seru kan?
jangan lupa share ke sahabat dumayy yahh biar lebih seru....


dHe_I Like Your Style

ABU NAWAS DAN SANDAL AJAIB

 


"Tertipu Sandal Ajaib"


akhirnya Kisah Abunawas hadir kembali dengan kisah-kisah lucunya.

Ada-ada saja ulah Abu nawas ini, tapi maksud dan tujuannya sebenarnya baik yaitu menyadarkan orang-orang kaya yang sekampung dengannya agar selalu ingat kepada Alloh SWT. Agar mereka sadar dari perbuatan untuk memperkaya diri sendiri dengan cara apapun.

Nah, ide cemerlangnya kali ini adalah sebuah sandal ajaib.
Berkat sandal ajaib ini, akhirnya salah seorang diantara mereka bertobat kepada Allah SWT.

Berikut Kisahnya
Kampung tempat tinggal Abu Nawas lama kelamaan membuatnya merasa tak nyaman karena saking banyaknya umat Islam yang menumpuk-numpuk harta dengan menghalalkan segala cara. Otomatis hal ini membuat Abu Nawas gusar, karena sebagai seorang ulama, Abu Nawas berfikir bahwa hal itu bertentangan dengan ajaran islam.

Untuk menghentikan perbuatan buruk tersebut, Abunawas memutar otak mencari ide yang tepat untuk menyadarkan banyak orang.
Setelah berpikir panjang, akhirnya ia menemukan ide cemerlang yaitu ide sandal ajaib. Dengan mengambil peralatan sederhana, berangkatlah ia ke pasar untuk gelar tikar menjual sandal-sandal.

"Sandal ajaib...sandal ajaib....sandal ajaib," kata Abunawas berkali-kali di pasar.
Sesaat kemudian muncullah salah seorang pemuda yang melihat-lihat barang dagangannya.
"Silahkan Tuan, mau mencari apa?" tanya Abunawas.
"Saya ingin mencari sandal yang bisa merubah hidupku yang miskin ini," jawab pemuda itu.
"Apa maksud Tuan?" tanya Abunawas lagi.
"Saya ini sudah lama hidup miskin dan ingin sekali kaya raya. Saya ingin membeli barang yang bisa memberikan saya keberuntungan," kata pemuda itu.

Sandal Ajaib


Sejurus kemudian Abunawas menunjukkan salah satu sandal ajaibnya. Ia mengatakan bahwa sandal itu akan membikin penggunanya dari tak punya menjadi orang yang punya. Karena tertarik, pembeli itu akhirnya jadi juga membeli sandal ajaib itu dengan harga yang lumayan mahal.

Si pemuda langsung saja memakai sandal ajaib itu berkeliling kampung dengan harapan semoga keberuntungan segera berpihak kepadanya. Akan tetapi, harapannya tak kunjung terwujud. Jangankan keberuntungan, si pemuda malah dikira pencuri di kampung tersebut. Untung saja para warga tak sampai menghakiminya.

Karena merasa tertipu, pemuda itu kembali lagi menemui Abu Nawas untuk protes.
"Assalamu'alaikum..." sapa pemuda itu.
"Wa'alaiukm salam..., eh ternyata Tuan, bagaimana kabar Tuan?" tanya Abu Nawas.
"Kabar jelek. Aku selalu ditimpa kemalangan gara-gara sandal ini. Padahal dulu engkau mengatakan kalau sandal ini bisa mendatangkan keberuntungan, bisa menjadi kaya dan terkenal, tapi mana buktinya?" protes si pembeli.

"Seingat saya, saya tidak pernah mengatakan seperti itu Tuan?" sergah Abu Nawas.
"Saya hanya mengatakan bahwa bila Tuan pada mulanya orang yang tidak punya, maka dengan membeli sandal ini Tuan akan menjadi orang yang punya. Buktinya sekarang Tuan sudah memiliki sandal ajaib ini," kata Abu Nawas.

Pembeli Bertobat


Begitu mendengar penuturan Abunawas, pemuda itu hanya bisa diam, ia menyadari bahwa dirinya sedang salah tafsir.
"Lalu mengapa engkau mengatakan bahwa sandal ini ajaib?" tanya pembeli.
"Karena merk sandal ini adalah ajaib, sandal ajaib," jawab Abunawas.

Akhirnya pemuda itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Tunggu Tuan, saya ingin mengatakan sesuatu kepada Tuan. Mungkin saja akan ada manfaatnya," kata Abu Nawas.

"Jangan percaya kepada barang ajaib, karena percaya pada sesuatu selain Allah SWT bisa membuat kita syirik dan akan mendapatkan kesusahan di dunia dan akhirat kelak. Buktinya sebagaimana yang Tuan alami ini, oleh karena itu, segeralah bertobat kepada Alloh SWT," kata Abu Nawas.

Mendengar penuturan Abu Nawas, sepertinya pemuda itu menyadari kesalahannya. Ternyata banyak sekali hal-hal yang bisa membawa kepada perbuatan yang dimurkai Allah SWT.
Mulai saat itulah ia bertobat kepada Allah SWT.


Seru kan ceritanya,,,,,?? masih banyak lagi loh cerita seru tentang abu nawas!
jangan lupa buka blog ini setiap 1 minggu sekali untuk mendapatkan cerita yang lebih seru...... 

eiitt,,,share ke teman2mu agar lebih seru dan jangan lupa komentarnya.!

dHewanto_I Like Your Style

Monday, 25 January 2021

Abu Nawas Menjadi Tahanan Orang Badui

 


"ORANG BADUI, Pemakan Daging Manusia"



Kisah Abu Nawas di malam hari ini akan mengisahkan tentang Abu Nawas yang berhasil menyerahkan Baginda Raja untuk dipotong lehernya kepada para tukang bubur kampung Badui.

Berikut Kisahnya
Pada suatu hari, Abu Nawas berjalan-jalan hingga ke kampung Badui di daerah gurun jauh dari kota tempat tinggalnya.
Sesampainya di tempat tersebut, ditemuinya ada beberapa orang yang sedang memasak bubur, suasana nya ramai sekali.

Tanpa disadarinya, ia ditangkap oleh orang-orang itu dan dibawa ke rumah mereka untuk disembelih.

"Kenapa aku ditangkap?" tanya Abunawas.
"Wahai orang asing, setiap orang yang lewat di sini pasti akan kami tangkap, kami semebelih seperti kambing dan dimasukkan ke belanga bersama adonon tepung itu. Inilah pekerjaan kami dan itulah makanan kami sehari-hari," jawab salah seorang dari mereka sambik menunjuk ke belanga yang airnya mendidih.

Abu Nawas ketakutan juga, namun meski keadaan sedang terjepit, dia masih sempat berpikir jernih.
"Kalian lihat saja, badanku kurus kering, jadi dagingku tak banyak, kalau kalian mau besok aku bawakan temanku yang badannya gemuk sehingga bisa kalian makan untuk lima hari lamanya. Aku janji, maka tolong lepaskan aku," pinta Abu Nawas.

Karena janjinya itu, Abunawas akhirnya dilepaskan.

Leher dipotong

Di sepanjang jalan Abu Nawas berpikir keras untuk menemukan siasat agar dirinya berhasil membawa teman yang gemuk. Terlintas olehnya Baginda Raja.
"Seharusnya Raja tahu akan berita yang tidak mengenakkan ini, dan alangkah baiknya kalau Baginda Raja mengetahui sendiri," gumannya dalam hati.

Abu Nawas segera saja masuk ke dalam istana untuk menghadap Raja.
Dengan berbagai bujuk rayu, akhrinya Abunawas berhasil mengajak Baginda Raja ke kampung badui tersebut.

Sesampainya di kampung badui tersebut, si pemilik rumah tanpa banyak bicara langsung saja menangkapnya. Abu nawas segera meninggalkan tempat itu dan dalam hati dia berpikir,
"Bila Raja pintar, pasti niscaya dia akan bisa membebaskan diri. Tapi kalau bodoh, akan matilah ia karena akan disembelih orang jahat itu."

Sementara itu, didalam rumah Baginda tidak menyangka akan disembelih.
Dengan takutnya dia berkata,
"Jika membuat bubur, dagingku ini tidaklah banyak karena banyak lemaknya. Tapi jika kalian izinkan, kalian akan aku buatkan peci kemudian dijual yang harganya jauh lebih mahal ketimbang harga buburmu itu."

Akhirnya mereka menyetujuinya.
Baginda telah beberapa hari tidak terlihat di istananya, ia bekerja keras untuk membuat peci untuk orang badui itu. Namun pada akhirnya beberapa ke depan Baginda dibebaskan oleh para pengawalnya.

Hukuman untuk Abunawas
Setelah Baginda dibebaskan, barulah Abu Nawas dipanggil untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Abunawas dianggap telah mempermalukan rajany di muka rakyatnya sendiri.

"Wahai Abu Nawas, engkau ini benar-benar telah mempermalukan aku, perbuatanmu sungguh tidak pantas dan kamu harus dibunuh," ujar Raja Harun geram.
"Ya Tuanku, sebelum hamba dihukum, perkenankan hamba menyampaikan beberapa hal," kata Abu Nawas membela diri.
"Baiklah, tetapi kalau ucapanmu salah, niscaya engkau akan dibunuh hari ini juga," ujar Baginda Raja.

"Wahai Tuanku, alasan hamba menyerahkan kepada si penjual bubur itu adalah ingin menunjukkan kenyataan di dalam masyarakat negeri ini kepada paduka. Karena semua kejadian di dalam negeri ini adalah tanggung jawab baginda kepada Allah SWT kelak. Raja yang adil sebaiknya mengetahui perbuatan rakyatnya," kata Abu Nawas.

Setelah mendengar ucapan Abu Nawas yang demikian, hilanglah rasa amarah baginda Raja. Dalam hati beliau membenarkan ucapan Abunawas tersebut.
"Baiklah, engkau aku ampuni atas semua perbuatanmu dan jangan melakukan perbuatan seperti itu lagi kepadaku," tutur baginda raja.

Seru kan ceritanya,,,,,?? masih banyak lagi loh cerita seru tentang abu nawas!
jangan lupa buka blog ini setiap 1 minggu sekali untuk mendapatkan cerita yang lebih seru...... 

eiitt,,,share ke teman2mu agar lebih seru dan jangan lupa komentarnya.!



Wednesday, 30 September 2020

FENOMENA USIA 35 - 40 TAHUN

Baca Juga :

Umur 35 tahun - 40 tahun ialah umur dimana kebanyakan kita mula diuji. Ujian boleh datang dari ibubapak (jatuh sakit, kematian), atau dari pasangan hidup (perceraian, jatuh sakit, pertengkaran) atau dari anak-anak yang meningkat remaja.

Memang bermula 35 tahun - 40 tahun, Allah akan memanggil kita pulang bertaubat kepadaNya. Panggilan dari Allah selalunya berbentuk ujian. Karena hanya dengan itu kita akan kembali bersimpuh dan bersujud mengadu dan memohon pertolonganNya.

Orang yang bijak akan memperbaiki diri dan amalannya, memperbaiki hubungan dengan ahli keluarga dan pasangannya, berhemat menyimpan untuk hari tuanya. Semua dengan niat mau berkumpul bersama di syurga nanti.

Orang yang kurang bijak tetap terlena dan langsung tak membuka hati terhadap panggilan Allah malah tetap terlena dengan kemewahan dunia, berkumpul dengan rekan² dan kurang memberi perhatian kepada suami/isteri/anak²

Usia 35 - 40 ini menjadi lebih menarik apabila al-Quran di dalam surah "al-Ahqaaf ayat 15" ada menyebut tentang itu. Allah berfirman yang bermaksud,

"Dan kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah.
Sedang di saat mengandungnya berserta dengan menyusuinya dalam masa tiga puluh bulan.
Setelah ia besar sampai ke peringkat dewasa yang telah sempurna kekuatannya dan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun, berdoalah ia dengan berkata: "Wahai Tuhan ku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmat-Mu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepada Mu)."

Ada segelintir golongan yang sudah berumur 50 tahun, 60 tahun, malah 70 tahun, masih memikirkan mobil mewahnya, tanaman Duriannya, ternak kerbaunya, harta2nya, anak2 dan cucu2nya. Alangkah baiknya jika apabila sudah berumur, masa diisi untuk mendengar Kuliah Agama, ibada di Masjid, Umrah, Haji dan sebagainya.

Ada yang masih merasakan diri muda belia. Melayani nafsu yang marak menyala padahal kerut dan uban dah tumbuh merata. Sibuk mencari cinta diluar, sedangkan rumahtangga yang halal dibiar berantakan.

Ada yang merasa masih sehat, walaupun sahabat2, saudara banyak yg sudah meninggal, kadangkala tanpa disangka. Itu semua hanya menjadi bahan cerita "ehh, tak disangkaaa...muda, sehat lg, tp meninggal di usia muda.."

Amatlah menyedihkan tatkala orang lain bersiap bertemu Tuhan, kita masih lalai dibuai perasaan akibat tertipu dengan nafsu sendiri.

Nafsu memang tak pernah tua. Ia sentiasa muda dan galak. Yang semakin lelah dan tua adalah tubuh dan kodrat kita.

Rasanya jika Tuhan menghalang tubuh manusia mengalami penuaan, pasti kita semua lebih peka untuk menyahut panggilan pulang.

Sehingga tiba saat roh kita diseret kembali merengkuk di hadapan Tuhan.

Kita hidup di dunia, tidak lama.. Rasulullah, Sallallaahu alaihu wasallam, telah bersabda:

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut”. [HR. Ibnu Majah: 4236].

Kalau sekarang kita rasa 35 - 40 tahun atau 70 tahun itu lama, bagaimana setelah alam barzakh atau akhirat juga kita dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, SATU HARINYA = RIBUAN TAHUN…

Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita..

Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah kita mempersiapkanny.?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan LIHATLAH DIRI MASING-MASING apakah yang sudah ia PERSIAPKAN untuk KEHIDUPAN ESOKNYA”. [Al-Hasyr:18]

Semoga bermanfaat....
Mari beramal melalui tulisan ini,...


Saturday, 27 June 2020

AZAB (SIKSA), UJIAN, ATAU HUKUMAN YANG DISEGERAKAN



~~> Apakah musibah itu sebagai ujian untuk meninggikan derajat hamba?

Ataukah musibah sebagai siksa (azab)?

Atau hukuman yang disegerakan di dunia?

Ketiga kemungkinan itu bisa ada. Sehingga dengan mengetahui hikmah musibah tersebut seharusnya membuat kita giat dan berusaha keras untuk bersabar serta meraih pahala lewat ujian.

1- Musibah yang menimpa sebagaimana yang menimpa para Nabi dan Rasul.

Misalnya dengan ditimpakan penyakit dan tidak diberikan keturunan.
Maksud musibah seperti ini adalah untuk meninggikan derajat, memperbesar pahala, dan sebagai qudwah (teladan) bagi yang lainnya untuk bersabar.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.”
(HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

2-Musibah bisa jadi pula sebagai sebab dihapuskannya dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barang siapa yang melakukan keburukan (baca:maksiat) maka dia akan mendapatkan balasan karena keburukan yang telah dilakukannya”(QS An Nisa: 123).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy Syura: 30)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang)
[1], kesusahan hati[2] atau sesuatu yang menyakiti[3] sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.”
(HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

3-Musibah bisa jadi adalah hukuman yang disegerakan (baca: siksaan atau adzab) di dunia disebabkan tumpukan maksiat dan tidak bersegera untuk bertaubat

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”
(HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani)

[Dikembangkan dari Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]

Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang bersabar dalam menghadapi setiap musibah, moga mendapat pahala serta tergugurkannya dosa lewat musibah tersebut.

Wallahu waliyyut taufiq.

Yang selalu mengaharapkan ampunan & rahmat Rabbnya

Semoga bermanfaat bagi muslimat.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk berbuat kebajikan

SETAN DAN PENYAKIT HATI_Baca Lebih Detil...!


Pandangan Islam tentang Penyakit Hati
Dalam perspektif Islam, penyakit hati sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.
Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi,[3] membagi penyakit hati dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
~~> Salah satu penyakit hati ialah merendahkan orang lain. Suka mencela dan menghina orang lain. Ketauhilah jika itu berakar dalam hati, Artinya  ketakwaan  sedang bermasalah. Isi dadanya sedang dijangkiti penyakit. Setan adalah penebarnya.

#. Tatkala seseorang senang menghina dan mencela orang lain, itu artinya ketakwaannya sedang bermasalah. Ia sedang dihinggapi penyakit sombong dan keangkuhan. Oleh karena itu, tatkala Allah berfirman dalam Surat Al-Humazah:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ


"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”

(QS. Al-Humazah : 1).

Setelah itu, Allah sebutkan tentang sifat neraka.


الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ


“yang (membakar) sampai ke hati.” 

(QS. Al-Humazah : 7).

#.  Sebagian ulama menjelaskan, tidaklah seseorang suka mengumpat, mencibir, dan mencela, kecuali hatinya bermasalah, yang dikenal  dengan penyakit hati. Ada indikasi yang kuat bahwa di hatinya bercokol kesombongan dan keangkuhan.

#  Oleh karena itu, waspada terhadap godaan setan yang menyebabkan penyakit hati.
Setan membelokkan hati manusia dari jalan lurus, jalan kebenaran  ke jalan yang menyimpang. Sampai-sampai tidak tahu apa yang sedang dilakukan.
Firman Allah:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا


Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.

(QS. Bani Israil : 36).

 #.  Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ


Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu.

(HR. Muslim).

Dalam konteks ini penulis ingin menekankan pada empat jenis penyakit hati yang menonjol, yaitu: riya’, marah, membanggakan diri, iri hati dan dengki.

Riya’ (pamer)
Dalam riya’ terdapat unsur kepura-puraan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Over acting, menutup-nutupi kejelekannya dan seterusnya. Sifat yang demikian ini digambarkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits Nabi: “Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi’.

Marah
Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu menguasai otak atau pikiran dan akhirnya kepada perasaan. Kondisi semacam ini seringkali sulit untuk dikendalikan.
Lebih lanjut As-Syarqawi mengungkapkan, bahwa marah akan menimbulkan beberapa pelampiasan, misalnya secara lisan akan memunculkan caci-makian, kata-kata kotor/keji dan secara fisik akan menimbulkan tindakan-tindakan destruktif. Dan jika orang marah tidak mampu melampiaskan tindakan-tindakannya di atas, maka dia akan berkompensasi pada dirinya sendiri dengan cara misalnya: merobek-robek pakaian, menampar mukanya sendiri, membanting perabot rumah tangga dan seterusnya. Marah juga dapat berpengaruh pada hati seseorang, yaitu sifat dengki dan iri hati, rela melihat orang lain menderita, cemburu, suka membuka aib orang lain dan seterusnya

Rasa Bangga Diri (‘Ujub)
Perasaan membanggakan diri (‘ujub) sedikit berbeda dengan perasaan sombong (kibr). Menurut al-Ghazali, kibr merupakan perasaan yang muncul pad diri seseorang, di mana ia menganggap dirinya lebih baik dan lebih utama dari orang lain. Sedangkan ‘ujub adalah perasaan bangga diri yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. ‘Ujub lebih terfokus kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri sendiri. Kadang-kadang pada sebagian orang emosi ini merupakan tingkah laku yang dominan dalam kepribadian dan dapat menimbulkan sikap sombong, angkuh serta merendahkan orang lain

Iri Hati dan Dengki
As-Syarqawi mejelaskan bahwa emosi ini secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua macam:
  1. Iri yang melahirkan kompetisi sehat (al-munafasah);

  2. Iri yang melahirkan kompetisi tidak sehat (al-hiqd wal hasad).
Iri jenis pertama merpuakan kompetisi sehat untk meniru hal-hal positif yang dimiliki orang lain tanpa didasari oleh interes jahat dalam rangka fastabiqul khairat. Iri dalam jenis ini merupakan sesuatu yang diharuskan bagi stiap muslim berdasarkan firman Allah: “Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu peraselisihkan”. (Q.S. al-Maidah: 48). Sementara iri dalam jenis kedua lebih didasari oleh rasa benci terhdap apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, baik yang berkaitan dengan materi maupun yang berhubungan dengan jabatan/kedudukan. Iri dalam kategori ini, menurut As-Syarqawi cenderung memunculkan sikap antipati dan bahkan melahirkan sikap permusuhan terhadap orang lain. Kemunculannya lebih disebabkan oleh rasa sombong, bangga, riya’, dan rasa takut kehilangan kedudukan.

Wallahu a'lam bish showab

Semoga bermanfaat bagi  kita semua, taufik n hidayah hanya dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Aamiin Yaa Allah Aamiin Yaa Rabbi

Friday, 26 June 2020

Betapa Berharganya "KEJUJURAN"

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu'alaikum wa rahkh matullaahi  wa bara kaatuh.


ORANG YANG JUJUR


~~> Jujur adalah sifat mulia yang hanya dimiliki oleh orang beriman saja, karena mereka yang hobi dusta maka tanpa terasa imannya sedang turun bahkan bisa jadi menghilang.
Bagaimana mungkin mereka orang jujur bisa melakukan dosa bahkan berbuat maksiat, karena sifat jujurnya akan menghalangi untuk berbuat demikian.

”Angga kenapa kemarin tidak masuk sekolah?” tanya ibu guru.  ”Sakit bu guru!” jawab Angga. Tiba-tiba Ani, teman sepermainan Angga, berteriak: ”Angga nggak sakit, Bu tapi pergi dengan mamanya!” Kemudian ibu guru bertanya kepada Angga: ”Angga pergi kemana sama mama?” ”Pergi menengok nenek Angga yang sedang sakit,” jawab Angga. ”Oh, menengok orang sakit adalah perbuatan yang baik. Jadi Angga tidak harus berbohong pada bu guru, ya sayang,” ucap bu guru. Angga mengangguk tanda mengerti. ***  Kasus di atas adalah gambaran bagaimana kita memberikan penanaman nilai-nilai kejujuran yang seharusnya diajarkan kepada anak-anak dalam persoalan sehari-hari. Semakin dini ditanamkan maka budaya jujur akan melekat pada diri anak hingga usia dewasa.  Jika budaya jujur sudah berlaku menyeluruh tiap individu, maka perilaku korupsi dapat diminimalisir. Bahkan hilang dari pikiran seseorang. 

Namun setiap manusia pasti pernah berbuat dosa dan kesalahan, baik besar ataupun kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.
“Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah, no, 4251)

Dan taubat adalah karakter untuk mereka yang benar benar jujur, diakui semua bentuk kesalahan dan dosa dan tidak akan mengulangi perbuatan tsb, sehingga dengan kejujuran imannya dia akan jauhi semua perbuatan maksiat dan dosa.

Sahl bin Abdillah at-Tustury rahimahullah berkata:

أعمال البِر يعملها البَر والفاجر، ولا يجتنب المعاصي إلا صديق.

"Amal-amal kebaikan bisa dikerjakan oleh orang yang baik maupun orang jahat, namun tidak akan mampu menjauhi kemaksiatan kecuali orang yang jujur imannya."
(Hilyatul Auliya', jilid 10 halaman 211)

Tidak semua orang mukmin itu membuktikan kejujuran imannya, sehingga mereka tidak menepati janji mereka kepada Allah Ta'ala. Apa janji mereka? Janji mereka adalah dua kalimah syahadah yang setiap hari mereka ikrarkan dalam shalat-shalat mereka. Bahwa setiap kali seorang mukmin mengucapkan “asyahdu allaa ilaaha illallah”, maksudnya ia mengucapkan “aku berjanji aku siap ikut Engkau ya Allah, aku siap jauhi apa yang Engkau haramkan, dan aku siap laksanakan apa yang Engkau perintahkan. Dan setiap kali ia mengucapkan “wa asyhadu anna muhamaadar Rasulullah” itu maksudnya “aku siapa ikut rasul-Mu. Aku siap mencontoh akhlaknya. Aku siap menjadikannya sebagai teladan dalam hidupku.

Namun sayang dua kalimah syahadat dengan makna seperti ini kurang banyak dipahami oleh kebanyakan orang Islam. Sehingga setiap hari dua kalimah syahadat itu diucapkan tetapi bukan dalam pengertian sebagai sumpah setia, melainkan sekadar ucapan yang kering dan tidak menggerakkan jiwa. Akibatnya umat Islam kurang bersungguh-sungguh mentaati Allah dan rasul-Nya. Dari segi ritual mereka rajin, tetapi dari segi komitmen terhadap akhlak mulia mereka kurang. Sehingga terjadi split personality (pribadi terbelah). Berwajah dua, ikut Allah ok, ikut setan juga ok.

Kita bisa saksikan di sekitar kita sejumlah wanita muslimah yang rajin shalat, tetapi di saat yang sama mereka tidak menutup aurat, bahkan banyak dari mereka yang bergaul bebas. Di sisi lain jumlah para koruptor dari orang Islam semakin banyak. Lebih dari itu mereka tidak punya rasa malu berbohong di depan publik. Sungguh tidak akan pernah berkah sebuah generasi yang setengah hati (tidak jujur) mentaati Allah Ta'ala.

Penanaman kejujuran sejak dini sangat relevan bila menyaksikan maraknya perilaku korupsi akhir-akhir ini. Menjadi budaya yang sudah pada level tidak kenal malu. Pelaku dengan santai, seakan tidak mempunyai salah, tampak biasa-biasa saja ketika tertangkap tangan. Praktik korupsi dan penangkapan terhadap pelakunya hampir setiap kita saksikan. Silih berganti dengan pelaku berganti-ganti. Komisi Pemberantasan Korupsi begitu gencar menyusuri lorong persembunyian pelaku. Tak pernah lelah seiring dengan bertambah banyaknya pelaku yang tampak lebih pintar mencari alibi dan menata sandiwara yang apik. Sejumlah undang-undang dengan pasal-pasal yang menjerat para pelaku korupsi ternyata belum mampu membuat jera.  Jika melihat fenomena di atas, akar persoalan moral adalah masalah penting yang harus menjadi perhatian. Kejujuran, ya kejujuran manusia yang sudah hilang. Nilai-nilai yang lama ditanamkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia memudar seiring perkembangan zaman. Oleh karena itu menjadi tugas orang tua, masyarakat dan guru untuk mengajarkan nilai-nilai kejujuran sedini mungkin pada anak-anak. Kejujuran adalah berani mengatakan sesuai dengan kenyataan.

Hal yang dapat dilakukan dalam upaya menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak, antara lain: Pertama, latihlah sikap kejujuran anak dengan tanya jawab sederhana apa yang sudah dilakukan. Setelah pulang sekolah ajak anak berdialog apa saja peristiwa yang terjadi di sekolah, baik dengan teman atau dengan guru. Demikian juga dengan guru, adakan percakapan sederhana sebelum kegiatan bermain dilakukan. Siapa hari ini yang sudah mandi, siapa yang tadi malam belajar dan pertanyaan-pertanyaan sederhana lain yang memancing anak menjawab secara jujur. Kedua, ceritakan tokoh-tokoh penting yang menjunjung sikap jujur dalam hidupnya. Hal ini akan memicu anak memiliki tokoh idola yang menjadi panutan dalam bersikap dan berbicara. Ketiga, perdengarkan dongeng-dongeng sarat makna kejujuran. Dongeng walaupun imajinatif namun dapat memberi pengaruh positif pada anak tentang nilai-nilai kebaikan. Apalagi jika tokoh dalam dongeng merupakan idola anak. Keempat, ajaklah anak bermain peran, misal pasar-pasaran. Guru dapat menjelaskan dalam permainan ini bahwa antara penjual dan pembeli hendaknya bersikap jujur. Penjual jujur dengan kondisi dagangannya, pembeli jujur dengan keinginan terhadap barang yang dibelinya. Dengan bermain peran anak-anak akan lebih mendalami mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Kelima, yang lebih utama berilah contoh model yang baik dari lingkungan terdekat anak,  apalagi orang tua harus menjadi teladan utama bagi anak-anaknya. Ingatlah, anak adalah peniru ulung apa yang dilihat dan didengar langsung di sekitar lingkungannya. Sekali orang tua berbohong, seorang anak akan menganggap benar suatu kebohongan yang dilakukan orang tua sehingga suatu saat anak akan meniru. Keenam, tanamkan pada anak bahwa jujur adalah suatu sikap yang mahal harganya, jika dirusak oleh kebohongan akan berimbas pada kehilangan harga diri dan di masyarakat akan menjadi noda yang sulit dihilangkan dari pandangan manusia. Generasi jujur lebih mempunyai nilai yang berharga dari apapun. Semoga kita mampu melakukan dengan kesadaran dan pemahaman yang baik dalam berlaku jujur pada diri sendiri dan memberikan teladan pada anak-anak generasi bangsa.

Wallahu a'lam bish showab.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, taufik n hidayah hanya dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala .
Aamiin Yaa Alloh Aamiin Yaa Rabbi.


Wassalaamu'alaikum wa rakh matullaahi wa bara kaatuh

TAUBATAN NASUHA _Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri...


-Para sahabat calon penghuni surga marilah kita berserah diri kepada Allah dan mohon ampunan-

🕌

TAUBATAN NASUHA

🕌

~~> Firman Allah swt,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.
(QS. Al-Baqarah: 222).

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. An-Nisa: 27).

#  Taubatan nasuha adalah tobat yang semurni-murninya. Hal ini untuk memohon ampunan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan-kesalahan yang diperbuat.
  Apabila tergelincir masuk kedalam dosa besar maka bertaubatlah dengan taubatan nasuha.

 # Taubatan nasuha itu ialah:

- Berhenti dari perbuatan dosa nya.

- "Memohon ampun kepada Allah swt.

- Menyesali dosanya dengan sedalam-dalamnya.

- Dan benci terhadap perbuatan dosa nya, serta berjanji tidak akan mengulanginya.

# Dalam sebuah hadis.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

"Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.
Dikatakan kepada beliau,
"Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Dosa syirik (menyekutukan Allah), sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina.”
(HR. Al-Bukhari no. 2560
 dan Muslim no. 129).


CELAKA, Orang yang Benar Benar Merugi (Bangkrut)



Celakalah orang orang yang merugi (bangkrut)
Dalam Hadits disebutkan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْا الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat : Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu? Para sahabat menjawab : Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan. Maka beliau bersabda : Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (H. R. Muslim no. 6744, Tirmidzi no. 2603 dan lainnya)

Dari hadits di atas  kita bisa mengetahui bahwa orang yang benar-benar bangkrut (merugi) bukanlah orang yang tidak punya uang atau harta benda, tapi otang yang benar-benar bangkrut (merugi) adalah orang yang merasa amal ibadahnya banyak namun tidak dapat menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah dan juga dengan sesama manusia. Jangan sampai kita hanya fokus beribadah namun tingkah laku kepada sesama manusia tidak dijaga dengan baik.

Dosa atau kesalahan kita kepada Allah jauh lebih mudah dihapus dari pada kesalahan kita kepada sesama manusia, sebab Allah tidak akan mengampuni dosa kita yang berhubungan dengan manusia selama manusia itu belum mau mengampuni kita.

Mendhalimi orang lain dengan meng-ghibah, menghujat, ucapan menyakitkan hati, hutang piutang, mengambil hak orang lain dengan sengaja dan lainnya, besar ataupun kecil harus segera diselesaikan di dunia. Jika tidak diselesaikan, maka akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Dalam haditas disebutkan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Barang siapa berbuat dhalim kepada seseorang, yang berkaitan dengan kehormatan atau sesuatu apapun, hendaklah dia meminta halal darinya pada hari ini, sebelum (datang hari kiamat) yang tidak ada dinar dan dirham. Jika dia memiliki amal shalih diambil darinya seukuran kedhalimannya. Jika dia tidak memiliki keabaikan-kebaikan, diambil kesalahan-kesalahan orang yang dizhalimi lalu ditimpakan padanya (H. R. Bukhari no. 2449)

Bukan hanya kepada sesama Muslim. Hubungan baik juga harus tetap dijalin baik dengan pemeluk agama lain. Jangan sampai karena merasa paling benar, kita secara terang-terangan langsung menyalahkan dan menyakiti hati mereka.

LEBIH BERMANFAAT BILA DISHARE KEPADA YANG LAIN

POSITIVE THINK _ "Celaka Berfikir Negatif"



PIKIRAN NEGATIF AKAN MEMBUNUH MU

Seorang pria tersesat di gurun pasir, ia hampir mati kehausan, dan akhirnya ia tiba di sebuah rumah kosong.

Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh, terdapat sebuah pompa.

Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga, tapi tidak ada air yang keluar.

Lalu ia melihat ada kendi di sebelah pompa itu dengan centong disampingnya, dan ditempeli tulisan:

"Saudara dan sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air terlebih dahulu dgn menggunakan centong disebelah._

Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi."

Dia lalu membuka penutup kendi dan mendapati kendi itu penuh berisi air.

"Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalo tidak berhasil?

Bagaimana kalo airnya gak keluar?

Bagaimana kalo gagal sementara perjalanan saya masih jauh?

Bukankah lebih aman kalau airnya saya minum dan sisanya saya bawa?

Mengapa saya harus mengikuti instruksi bodoh itu?

Berbagai pikiran negatif mulai memenuhi benaknya...

Akhirnya dia memutuskan utk mengambil kendi tsb dengan maksud meminum airnya sebagian dan membawa kendinya pergi.

Namun baru saja dia mengangkat kendi tsb tinggi2, sebelum mulut kendi bertemu mulutnya, tiba2 PRAAAAAK, kendi itu pecah berkeping2 dan airnya tumpah semua.

Rupanya dibawah kendi ada pengait dan pada pengait tersebut diikatkan sebuat kawat baja yg halus tujuannya agar kendi tsb tidak ada yg membawa pergi.

Namun krn dia terburu2 dan begitu semangatnya mengangkat kendi akhirnya kendi malah pecah!

Orang itu pun hanya bisa terperangah melihat situasi itu, belum setetes air masuk tenggorokannya kendi sudah pecah.

Dia hanya bisa menyesali diri kenapa tidak mengikuti instruksi di kertas tersebut.

Sekarang dia tidak punya air sama sekali sementara perjalanan masih jauh.

Saudara dan sahabat seringkali kita seperti itu,selalu berpikiran negatif dan tidak percaya terhadap informasi yg disampaikan kpd kita.

Pengen hidupnya berubah tapi tidak ada upaya, dan melakukan hal yg sama setiap hari.....

LALU APANYA YG SALAH??

yang salah adalah cara berpikir kita.

Tony Buzan dalam bukunya Map of Mind menceritakan cara berpikir kitalah yg membuat hidup kita tidak berubah bahkan semakin susah.

Kalau anda mau berubah hidup, rubahlah cara berpikir anda, buang jauh2 pikiran negatif, cermati setiap informasi, dengarkan infonya secara lengkap, cari tahu siapa yg sudah sukses di bidang itu, belajar kpd orang tsb, lalu lakukan seperti yg beliau lakukan, maka anda pun akan sukses seperti beliau.


semoga Allah menerima amal ibadah kita Aamiin...

KLIK Ikuti untuk mendapatkan lebih banyak materi